Kamis, 04 Mei 2023

GULA ATAU SOPI KEARIFAN LOKAL yang MEWARISI DARI NENEK MOYANG

Memproduksi gula kolang atau minuman sopi merupakan sandaran ekonomi keluarga Kolang di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sejak lama. Dua komoditas terakhir adalah hasil olahan dari nira aren (Arenga pinnata) yang kini sering menimbulkan masalah hukum.  Usaha pengolahan menjadi gula sudah amat jarang digeluti penduduk karena prosesnya yang tidak ringan ditambah peluang pasarnya yang terus meredup akibat tekanan persaingan gula pasir pabrikan dari mana-mana. Belakangan, hasil sadapan nira diolah menjadi sopi atau tuak, karena pasar lebih menjanjikan dan prosesnya lebih enteng. Namun, para pembuatnya kini seakan di persimpangan jalan, kembali ke gula kolang atau melanjutkan membuat sopi. Situasi itu terjadi setelah polisi setempat sejak 2-3 tahun terakhir gencar merazia dan menyita minuman keras termasuk sopi yang diproduksi warga Kolang. Di lingkungan masyarakat itu, aren adalah pohon kehidupan yang bermanfaat ganda. Mayang usia muda disadap untuk mendapatkan nira yang selanjutnya diolah jadi gula. Belakangan nira juga diolah menjadi sopi dengan kualitas berbeda. Harga sopi kelas utama Rp 10.000-Rp 15.000 per botol (0,75 liter). Daun aren adalah bahan tak tergantikan sebagai pembungkus potongan gula kolang yang berbentuk balok mini itu. Bungkus daun aren akan menjaga sekaligus mengawetkan aroma gula. Sementara tulang daun atau lidi dipakai sebagai pengikat kemasan gula atau pengikat bangunan pagar kayu. Lidi aren juga biasa dipakai sebagai penyambung cemeti, perangkat utama tari perang khas Manggarai, yang bernama caci. Lembaran ijuknya dimanfaatkan untuk atap rumah. Rumah adat Manggarai (sebutan umum untuk tiga kabupaten yakni Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur) aslinya beratap ijuk. Ada juga rumah adat beratap ilalang (Imperata cylindrica) untuk kawasan bagian timur yang langka ditumbuhi aren, tetapi tetap berarsitektur sama, yakni berkolong dengan badan rumah berbentuk piramida. NTT sejak turun-temurun mengenal dua jenis gula lokal. Selain gula kolang, jenis lainnya adalah gula rote atau gula sabu. Kesamaannya, hasil akhirnya berupa bongkahan gula berwarna merah hingga biasa disebut gula merah. Bedanya, gula kolang dari nira aren. Format batang gula berbentuk potongan balok mini berukuran panjang sekitar 20 cm dan bergaris tengah 3 cm. Gula rote atau gula sabu adalah hasil olahan dari nira lontar (Borassus flabellifer) yang sejak lama ditekuni kelompok warga etnis Rote dan Sabu. Mereka adalah warga asli asal Kabupaten Sabu Raijua dan Rote Ndao. Kemasan gulanya berbentuk lempengan membulat bergaris tengah 5 cm dengan ketebalan 1 cm. Ada juga hasil olahan berupa gula kental. ”Gula kolang masih diproduksi, tetapi jumlahnya sangat terbatas karena pembelinya sudah jauh berkurang. Proses pembuatannya pun jauh lebih berat dibanding pengolahan menjadi sopi,” tutur Yohanes Sintus (58), penyuling sopi dari nira aren di Wetik, Kabupaten Manggarai Barat. ”Jika dihitung-hitung, menjual sopi lebih menguntungkan daripada berdagang gula,” ujar Sekretaris Desa Golo Riwu, Gaspar Madal. Perpindahan usaha dari mengolah gula ke sopi disebabkan pasar sopi lebih menjanjikan. Seperti daerah lain di NTT, sopi menjadi bagian tak terpisahkan dalam acara adat. Seluruh rangkaian ritual adat diawali dengan tuak atau sopi. Sejumlah warga Kolang di Desa Golo Riwu, Tueng, Compang Kules, dan desa lain di Kecamatan Kuwus, akhir Mei lalu, mengakui, perubahan usaha itu berawal 1990. Masyarakat makin bersemangat menekuni usaha penyulingan sopi karena pasarannya lebih menjanjikan. Namun, suasana kondusif itu ternyata berujung juga. Para penjaja sopi yang hampir semuanya asal Kolang sejak dua tiga tahun lalu selalu dihantui suasana tidak nyaman berusaha. Sudah sering terjadi sopi jualan warga disita polisi. Dilaporkan, setiap petugas polisi selalu bilang sopi masuk kategori minuman keras sehingga dilarang beredar atau dijual. ”Kata polisi, larangan itu berdasarkan peraturan daerah, tetapi kasusnya tak pernah diproses secara hukum, dan sopi sitaan lenyap begitu saja,” kata Yohanes Situs yang mengaku beberapa kali berurusan dengan polisi terkait penjualan sopi. Kasus terakhir terjadi Maret lalu. Sebanyak 60 jeriken berisi 3.000 liter sopi senilai kurang lebih Rp 12 juta milik delapan warga Wetik disita polisi. Penyitaan terjadi saat kedelapan warga itu dalam perjalanan menjajakan sopi di Ruteng, kota Kabupaten Manggarai. ”Ini hanya salah satu contoh kasus. Banyak kasus serupa yang menimpa warga desa tanpa proses hukum lebih lanjut,” kata Gaspar di Wetik. Gaspar bersama sejumlah tetua di Desa Golo Riwu dan sekitarnya berharap ada solusi atas berbagai kasus penjualan sopi. Bagi penduduk, sopi sama dengan sandaran hidup keluarga. ”Kami sangat keberatan jika sopi warga disita begitu saja tanpa ada jalan keluar. Kami siap bayar retribusi asal sopi tetap dijual seperti biasa tanpa dikejar-kejar polisi,” kata tetua Pius Mudun (62). Anggota DPRD Manggarai Barat, Frans Sukmaniara, mendukung harapan tetua adat agar ada solusi atas usaha sopi rakyat. ”Solusinya, produknya harus berlabel resmi serta wajib membayar retribusi. Jadi penanganannya seperti industri minuman brem Bali di Bali itu saja,” tutur Frans. Soal yang terakhir itu memang tak mudah, tetapi bisa diselesaikan sebenarnya. Ini wilayah hukum yang menjaga ketertiban masyarakat yang bertali-temali dengan nafkah hidup banyak warga di sana...

Rabu, 26 April 2023

DESTINASI WISATA BERENANG WAE IMPOR YANG MENJANJIKAN


Ketika jalan-jalan ke wilayah  Kolang di Kecamatan Kuwus Barat wilayah Kabupaten Manggarai Barat NTT, selalu saja ada hal menarik yang dapat dieksplor. Mulai dari pegunungan Golo Buru hingga Gua Liang Teong, memiliki daya pikat tersendiri.

Di Puncak Golo Buru, kita bisa selfi dengan latar belakang panorama alam yang indah. Dari sana kita bisa melihat puncak Puar Lolo di Kecamatan Sano Nggoang, Gunung Ranaka di Ruteng juga Persawahan Lembor.

Selain itu, di puncak bukit ini terdapat danau Kecil, tempat ini juga sebagai habitat babi hutan. Masyarakat setempat menjadikan puncak ini sebagai ajang adu ketangkasan memburu babi hutan. Para pemburu lokal sering bertemu di tempat ini.

Sementara di bawah bukit sisi utara Golo Buru, terdapat gua batu yang indah. Orang setempat menamakanya Liang Teong. Konon, semasa pendudukan Belanda, gua ini di jadikan tempat pengasingan bagi perampok, pencuri serta pembangkang pajak. Orang Belanda menggantung mereka di gua itu. Agar tidak melupakan peristiwa ini, orang setempat sepakat menamakan gua itu 'Liang Teong' (liang=gua,Teong=gantung).

Sedangkan di sisi Selatan di bawah bukit golo buru terdapat sumber mata air belerang yang terletak di wae Impor, sungai yang membatasi wilayah Desa Tengku dan Desa Ranggu, Kuwus Barat.

Jika anda menginginkan sesuatu yang baru di hamente Kolang, tidak ada salahnya berkunjung ke wisata berenang Wae Impor.

Wae Impor merupakan objek wisata yang sedang hits di kalangan milenial. Tempat ini awalnya hanya begitu begitu saja. Suatu ketika tatkala Ranggu di landa krisis air, sekelompok anak-anak milenial berenang di Tiwu kolang d'Mote, Tiwu Dangget Dem Naeh juga tiwu pari.

Sungai wae impor terlihat lebih indah karena inisiatif sekelompok orang yang melakukan gerakan bersih-bersih di bantaran aliran Sungai. Kegiatan ini biasanya dilakukan memasuki musim kemarau. Berada di tiwu dangget dem Naeh, wisatawan dapat menikmati air terjun, melihat kebun Cengkeh, merica, pohon enau, Sari Kokor Gola, jeram-jeram, serta pemandangan tebing yang indah.
Sungai wae impor,tak sekadar bermain air di bawah naungan Gunung poso Kuwuh. Sungai wae impor ini merupakan sungai yang berupa air terjun dan kolam alami. Airnya yang berwarna biru bening, serta jernih membuat sungai ini terlihat lebih bersih dan jernih.

Mahasiswa UGM ketika KKN di Ranggu beberapa tahun silam, merasakan experience yang indah di sini,mereka bisa berendam, berenang atau bermain air. Selain itu,para medis se-kabupaten Manggarai Barat ketika merayakan HKN di Rangggu beberapa waktu silam, juga pernah merasakan pengalaman indah berenang di sini.

Objek wisata air terjun dan kolam permandian alami ini memiliki mata air yang memancar dari kedalaman gua. Alam yang berada di sekitarnya sangat indah menyerupai taman. Airnya jernih dan berwarna biru. Pemandangan alamnya menakjubkan dengan suhu udara yang sejuk, karena berada di bawah bukit Poso Kuwuh.

Orang yang masuk kawasan kolam, biasanya melalui jalan tikus atau jalan seadanya, karna memang belum ada akses ke tempat ini.

Jika ingin selfi di dalam kolam, biasanya pagi atau sore hari. Sebab,hasil foto terlihat lebih bagus. Air jernih di tiwu Dangget Dem Naeh akan bertemu langsung dengan sinar matahari, tepat berada di samping anda, bukan di atas seperti saat siang hari.

Di sekitaran tiwu (kolam) ada sawah, Sari (nama gubuk untuk memasak air nira jadi gula) ada juga Kera-kera jinak yang bermain di lahan pertanian.Tidak jauh dari tempat ini, ada Liang Nila, dihuni oleh Ular aluminium, yang menurut anak-anak milenial disebut aluminium karna warnanya seperti seng aluminium. Juga ada kebun Cengkeh, Merica, kopi dll. Jadi wisatawan dapat menikmati alam sambil belajar mengetahui jenis-jenis komoditi pertanian. Selain itu, banyak jenis Ipun, udang,belut dan ikan-ikan kecil. Pada saat kemarau, aliran airnya tidak terlalu deras. Namun, saat musim penghujan, debit airnya sangat deras serta jalannya licin, sehingga pengunjung tidak dapat melakukan wisata berenang.

Sementara bagi yang berjiwa petualang, anda bisa mencoba trekking ke Watu Pengang. Tempat ini adalah tebing batu yang sangat curam. Anda juga bisa melihat Poso Kuwuh sambil menikmati udara sejuk dan asri karena dipenuhi pepohonan rindang serta lahan pertanian penduduk.

Untuk menuju objek wisata renang wae Impor cukup mudah. Dari Labuan Bajo (Ibukota Kabupaten Manggarai Barat) NTT ditempuh 3-4 jam menggunakan Mobil. Sesampainya di kampung Ranggu, anda tinggal menanyakan kepada penduduk setempat, mereka dengan ramah melayani anda ke tempat wisata berenang wae Impor.

Rabu, 29 Maret 2023

GOLA REBOK KEARIFAN LOKAL WARGA KOLANG yang MEWARISI DARI NENEK MOYANG

      Kerajinan gula merah merupakan salah satu kearifan lokal yang masih bertahan di Kecamatan Kuwus dan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, khususnya di Desa Sompang Kolang.B

       Berkat usaha tersebut, selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga  mengantarkan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan.

    Kawasan perbukitan lembah Kolang tumbuh subur ratusan pohon enau atau aren. Ada pun salah satu jenis produksi gula merah khas Desa Sompang Kolang adalah gola rebok atau gula semut.

       Dikatakan gola rebok karena masyarakat setempat meraciknya khusus untuk dicampur dengan pangan lokal yang bernama rebok. Asal nama gola rebok terinspirasi dengan kemasan kuliner rebok.   

       Dulu para perajin gola kolang membungkus gula merah dalam bentuk batangan. Orang Kolang menyebutnya gola rokot atau gola yang dibungkus dengan daun enau kering. 

       Seiring dengan perkembangan zaman, gola rebok ini agak susah ditemukan karena selain pohon enau yang kian punah juga karena harga jual yang tidak mengimbangi biaya produksinya.

     Berangkat dari keprihatinan akan kondisi tersebut membuka mata anak muda Desa Sompang Kolang untuk melakukan inovasi penjualannya ke dalam bentuk kemasan yang menarik guna menaikkan harga jual dan memperluas jangkauan pasar.

     Tahun 2017 mereka melakukan kemitraan dengan Pemerintah Desa Sompang Kolang, dan terbentuklah UKM Kolarek BUMDES Sompang Kolang dan produksi gula merah ini sebagai produk unggulan Bumdes.

Rabu, 15 Maret 2023

Pesona Si Cantik Sawah Jaring Laba-laba di Kolang, Destinasi Wisata Menjanjikan

      Destinasi sawah jaring laba-laba yang masih tersembunyi di Kampung Tado tepatnya di persawahan Lingko Marang, Desa Ranggu, kecamatan Kuwus Barat, kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur belum terkenal seperti sawah jaring laba-laba yang ada  di perkampungan meler, Desa Meler, Kabupaten Manggarai, Kecamatan Ruteng, tepatnya di pinggir jalan Cancar- Ranggu. 

        Di dalam Lingko Marang itu ada 13 mohot atau Lodok dengan luas diperkirakan 15 hektar. Keindahan alamnya tak kalah menawan dari sarang laba-laba yang ada di Cancar kabupaten Manggarai.

       Sarang laba-laba satu-satunya yang ada di Kabupaten Manggarai Barat. Sarang laba-laba pun kerap dikenal dengan nama Lingko Marang . Nama Sarng laba-laba ini berasal dari bahasa Manggarai yaitu cewo atau Mbaru artinya Sarang, Laba-laba artinya Ranggom(Binatang). Menurut pemahaman saya terkait destinasi wisata sarang laba-laba ini rumah hewan. 

     Tak sekadar nama, jaring laba-laba ini cantik adanya. Menawarkan hamparan keindahan alam berupa padi yang indah, dan hutan yang hijau. 

    Ditempat ini anda bisa menyaksikan indahnya pemandangan hutan yang hijau. Jauh dari hiruk pikuk kota dan polusi.

     Jaring Laba-laba kecil ini meneduhkan hati setiap pengunjung dengan pesona keindahan yang ada di dalamnya.

Rabu, 08 Maret 2023

Uniknya kampung kolang

Indonesia terdiri dari beberapa suku, bahasa, budaya dan kepercayaan. Semua itu bercampur dan berbaur menjadi sebuah kelompok di berbagai daerah. Perlu diingat semua keanekaragaman tersebut sebagai peninggalan nenek moyang, tidak dapat dihilangkan karena menjadi jati diri desa tersebut. Kampung tradisional tersebar di segala penjuru Indonesia dan menawarkan kesempatan untuk merasakan hal-hal yang unik khas Indonesia, tempat di mana kepercayaan kuno dan masih mendominasi kehidupan sehari-hari. Biasanya para penduduk setempat di kampung tradisional masih sering melakukan adat istiadat, melakukan ritual, kesenian serta masih mengenakan pakaian adat. Daya tarik utama kampung ini adalah kesempatan untuk melihat dan merasakan perbedaan budaya yang masih asli, bebas dari pengaruh modernisasi,salah satunya kampung KOLANG.

      Perkampungan ini dihuni oleh masyarakat kampung kolang yang sangat terikat oleh adat istiadat peninggalan leluhur dalam adat Manggarai. Keadaan kampung Redek masih sangat kaya dengan alam. masyarakat kolang menolak intervensi dari pihak luar karena adanya ketakutan merusak kelestarian kampung tersebut. Kampung ini berada di wilayah Desa Sompang Kolang, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Bara. Letak geografis kampung ini di lembah yang subur "Masyarakat Kampung Kolang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan pengusaha Gula Mer

Rabu, 01 Maret 2023

Kampung Kolang

 kampung kolang adalah nama sebuah desa yang terletak di kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur. Luas wilayah desa ini sekitar 6,21 km, dengan jumlah penduduk tahun 2023 sebanyak 1. 109 jiwa.Kampung kolang  kawasan Kuwus Barat sekitar 90% memiliki destinasi wisata alam yang tersembunyi. Kampung kolang juga memiliki budaya yang unik serta cerita-cerita rakyat yang menarik. Dari segi SDA kampung kolang sudah dibilang kampung yang kaya.

GULA ATAU SOPI KEARIFAN LOKAL yang MEWARISI DARI NENEK MOYANG

Memproduksi gula kolang atau minuman sopi merupakan sandaran ekonomi keluarga Kolang di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tengga...